– Paradigma bisnis harus diubah. Jangan hanya melulu menggali potensi bisnis komersial yang hanya mengejar profit. Bisnis sosial (social entrepreneurship) yang memaksimalkan manfaat juga potensial dikembangkan oleh para entrepeneur muda.

Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (Ibeka) Subang, Tri Mumpuni Wiyatno (46) mengatakan, bisnis sosial yang berbasis masyarakat perlu dikembangkan. Mumpuni menjelaskan bisnis sosial harus dimulai dengan melibatkan komunitas lokal. Selain itu juga menjalankan metode bisnis yang bersifat pemberdayaan masyarakat setempat.

“Masyarakat juga berhak atas kepemilikan usaha dan aset,” jelas perempuan yang berhasil membangun puluhan desa dengan mengembangkan fasilitas listrik tenaga air (mikrohidro) sejak 18 tahun silam ini.

Bisnis sosial dijalankan dengan konsep pengembangan dan pemberdayaan sosial, jelas Mumpuni dalam diskusi mengenai lingkungan dan entrepreneurship di @america (pusat informasi dan budaya Amerika Serikat), Mal Pacific Place, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

Prinsip bisnis sosial
Mumpuni menekankan, bisnis sosial bisa dikembangkan anak muda di mana saja, dengan berbagai potensi lokal yang tersedia. Prinsip utamanya, bisnis sosial lebih memaksimalkan manfaat. Berbeda dengan bisnis komersial yang memaksimalkan profit.

Jika bisnis komersial menekankan pada kapitalisasi dan mengandalkan jaminan untuk membangun kepercayaan, lain lagi dengan bisnis sosial. “Bisnis sosial lebih mencari manfaat untuk komunitas lokal. Kepercayaan dibangun dari aktivitas harian dan keyakinan bukan dari nilai jaminan,” jelas Mumpuni.

Bisnis sosial juga memperlakukan pekerjanya lebih manusiawi. Pada bisnis komersial, semakin produktif seseorang maka akan semakin diuntungkan usahanya. Tuntutan pemilik modal pada pekerjanya adalah produktivitas yang tinggi untuk mengejar profit. Sementara, bisnis sosial memiliki cara pandang berbeda atas orang yang terlibat bekerja di dalamnya. “Setiap orang diyakini memiliki keunikan, sehingga antara satu dan lainnya tak bisa disamakan,” jelas Mumpuni.

Mengubah paradigma bisnis komersial menjadi bisnis sosial perlu dimulai dari perubahan mindset. Setidaknya mulai dari hal mendasar, bahwa hidup bukan sekadar mencari keuntungan dan materi. Hidup adalah juga untuk berbagi.

“Sistem pendidikan kita harus mengedepankan pembentukan karakter, bahwa hidup jangan serakah,” kata Mumpuni yang berhasil meraih penghargaan Climate Hero pada 2005 dari World Wildlife Fund for Nature (WWF). “Anak muda masih punya waktu dan belum terlambat melakukan perubahan. Perubahan harus direbut, diupayakan, dan diperjuangkan,” lanjutnya.

Source: KOMPAS.com